FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Nama Habib Rizieq Shihab kembali ramai dibicarakan di media sosial setelah potongan ceramah terbarunya menyebar luas dan memicu perdebatan. Kali ini, sorotan bukan hanya datang dari para pendukungnya, tetapi juga dari warganet yang sebelumnya kerap berseberangan pandangan, namun ikut menyoroti isi kritiknya terhadap pemerintah.
Dalam video yang beredar, Rizieq menyinggung persoalan serius yang menurutnya berakar dari ketimpangan akses pendidikan, khususnya di bidang kedokteran. Ceramah itu kemudian berkembang menjadi pembahasan soal kemiskinan, pengangguran, hingga sulitnya masyarakat memperoleh kehidupan yang layak. Dari situ, ia masuk ke isu yang belakangan juga ramai di publik: krisis dokter di Indonesia.
Kritik soal dokter asing dan biaya pendidikan
Rizieq menyinggung kebijakan pemerintah yang disebut membutuhkan “dokter naturalisasi” atau dokter asing untuk praktik di Indonesia. Ia mempertanyakan logika kebijakan itu dengan membandingkannya dengan naturalisasi di dunia sepak bola.
“Hal ini membuat Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa kita membutuhkan dokter-dokter naturalisasi. Lu kira ini main bola. Main bola naturalisasi, pemain asing disuruh jadi pemain kita, eh dokter juga digolongkan seperti itu, apa alasannya? Karena Indonesia kekurangan dokter,” ujar HRS dalam potongan video tersebut.
Menurut Rizieq, persoalan utama bukan semata kekurangan tenaga medis, melainkan mahalnya biaya pendidikan kedokteran yang membuat banyak anak Indonesia tidak punya kesempatan masuk fakultas kedokteran. Ia menilai, jika pendidikan kedokteran dibuka secara gratis, jumlah calon dokter dari dalam negeri akan jauh lebih besar dan kebutuhan tenaga medis bisa dipenuhi tanpa harus bergantung pada tenaga asing.
Potongan ceramah yang memantik dukungan baru
Potongan ceramah itu kemudian cepat menyebar dan membuat nama Rizieq kembali menjadi perbincangan panas sejak Jumat (21/6/2024) malam hingga Sabtu pagi. Menariknya, isi kritik yang ia sampaikan justru ikut mengundang dukungan dari sejumlah akun media sosial yang sebelumnya kerap mengkritiknya.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana isu pendidikan dan layanan kesehatan masih menjadi topik sensitif di ruang publik. Di tengah perdebatan soal dokter asing, pernyataan Rizieq menambah tekanan pada pemerintah untuk menjelaskan akar persoalan yang membuat akses pendidikan kedokteran dinilai belum terjangkau bagi banyak keluarga di Indonesia.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.










