JAKARTA — Dugaan bocornya data milik Kepolisian Republik Indonesia (Polri) kembali memantik sorotan publik. Politikus PDIP, Ferdinand Hutahaean, ikut angkat suara dan menilai kabar tersebut tidak boleh dianggap sepele, terutama jika menyangkut data personel yang berkaitan dengan operasi rahasia dan informasi sensitif negara.
Ferdinand Soroti Kesiapan Keamanan Siber
Ferdinand menyampaikan keprihatinannya saat dimintai tanggapan oleh fajar.co.id, Sabtu (6/7/2024). Ia menilai kondisi keamanan siber Indonesia masih perlu dibenahi serius, terutama ketika teknologi digital justru terus bergerak lebih cepat dibanding kemampuan pengamanannya.
“Sayang sekali, saya juga sangat prihatin dengan kondisi keamanan Siber kita. Teknologi digital, IT kita ini kok seperti terbelakang yah,” ujar Ferdinand.
Meski belum bisa memastikan kebenaran dugaan kebocoran itu, ia menekankan bahwa isu seperti ini tetap harus ditangani cepat. Menurutnya, risiko terbesar bukan hanya pada data institusi, tetapi juga pada keselamatan personel yang sedang menjalankan tugas di lapangan, termasuk penugasan yang bersifat rahasia.
Data Sensitif Tak Boleh Dibiarkan Rentan
Ferdinand mengingatkan bahwa perkembangan kejahatan siber berlangsung sangat cepat dan sering kali lebih dulu menemukan celah sebelum sistem keamanan siap menutupnya. Karena itu, ia menilai aparat dan para ahli teknologi informasi tidak boleh tertinggal dalam menghadapi pola serangan digital yang makin kompleks.
“Saya tidak bisa memastikan kebenarannya, tapi saya harap agar segera ada tindakan penanganan terhadap hal ini agar data-data tidak bocor terutama data personel yang sedang menjalani tugas rahasia,” ucapnya.
Ia juga menambahkan kekhawatiran bahwa kebocoran data bisa berdampak pada personel yang sedang bertugas di tempat atau bahkan negara lain. Jika informasi semacam itu jatuh ke pihak yang salah, konsekuensinya bisa jauh lebih luas dari sekadar gangguan administratif.
Polri, INAFIS, BAIS, hingga BIN Jadi Sorotan
Dalam komentarnya, Ferdinand tidak hanya menyinggung Polri. Ia juga menyebut sejumlah lembaga lain yang mengelola data sangat penting dan rahasia, seperti INAFIS, BAIS, hingga BIN. Menurutnya, kebocoran pada data lembaga-lembaga tersebut akan menimbulkan persoalan besar karena menyangkut informasi yang sifatnya sangat sensitif.
“Saya prihatin, terutama dalam hal kebocoran data dari Polri, INAFIS, BAIS, bahkan BIN. Saya tidak bisa memastikan kebenarannya namun hal ini sangat memprihatinkan karena data yang mereka kelola sangat sensitif,” tambah Ferdinand.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.










