Kesiapan jalur penyeberangan Merak-Bakauheni kembali menjadi sorotan menjelang arus mudik Lebaran 2025. Di tengah proyeksi lonjakan penumpang yang selalu membebani pelabuhan dan jalan tol penghubung, Komisi V DPR RI meminta agar persoalan klasik seperti antrean tiket, penumpukan kendaraan, hingga lambatnya bongkar muat kapal tidak lagi terulang.
Komisi V soroti kesiapan jalur mudik
Dalam kunjungan ke Pos Pantau Cikampek Utama dan Jalan Tol Jakarta-Cikampek di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Komisi V DPR RI memusatkan perhatian pada kesiapan infrastruktur transportasi yang akan menjadi tumpuan mobilitas masyarakat saat mudik. Anggota Komisi V DPR RI, Hamka B Kady, menyebut peninjauan itu dilakukan untuk memastikan Pelabuhan dan Tol Jakarta-Merak benar-benar siap menghadapi arus perjalanan yang padat.
Menurut Hamka, hal yang paling mendesak untuk dibenahi adalah manajemen tiket. Ia menilai sistem pemesanan, baik secara online maupun manual, harus ditata lebih rapi agar tidak menimbulkan penumpukan di titik layanan. Dari pengalaman tahun sebelumnya, antrean panjang kerap muncul bukan hanya karena volume penumpang, tetapi juga karena alur pelayanan yang kurang efisien.
VIP dan reguler diminta dipisah
Hamka juga mendorong Kementerian Perhubungan untuk memisahkan penumpang VIP dan reguler. Langkah ini dinilai penting agar proses naik kapal lebih tertib dan tidak bercampur dalam satu antrean yang sama. Dengan pemisahan yang jelas, waktu tunggu di pelabuhan diharapkan bisa ditekan dan arus kendaraan lebih lancar.
Selain soal tiket, ia menyoroti sistem bongkar muat kapal yang kerap menjadi titik rawan saat puncak mudik. Jika proses keluar-masuk kapal berjalan lambat, maka antrean kendaraan di pelabuhan akan semakin panjang dan berdampak ke seluruh rantai perjalanan. Karena itu, efisiensi operasional kapal dianggap menjadi kunci agar penyeberangan Merak-Bakauheni tidak tersendat saat volume penumpang mencapai puncaknya.
Efisiensi jadi kunci di Merak-Bakauheni
Dengan tingginya mobilitas masyarakat pada masa Lebaran, jalur Merak-Bakauheni memang selalu berada di bawah tekanan besar. Hamka menegaskan bahwa kelancaran penyeberangan tidak bisa hanya bertumpu pada kesiapan fisik pelabuhan, tetapi juga pada pengaturan layanan yang disiplin dan cepat. Jika seluruh unsur bekerja lebih efisien, masyarakat bisa menempuh perjalanan mudik dengan lebih nyaman dan waktu tempuh yang lebih terkendali.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.












