Ketegangan antara GRIB Jaya dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali mencuat setelah Juru Bicara Ketua Umum GRIB Jaya, Hercules, Razman Nasution, melontarkan peringatan terbuka. Dalam konferensi pers di Medan, Sumatera Utara, Razman menegaskan agar Dedi tidak terus menempatkan ormas GRIB Jaya pada posisi yang berpotensi memantik konflik.
GRIB Jaya Merasa Disudutkan
Razman menyebut pihaknya keberatan dengan pernyataan Dedi Mulyadi yang dikaitkan dengan rencana pembentukan Satgas Antipremanisme di Jawa Barat. Menurut dia, komentar tersebut seolah menyeret ormas dan LSM ke dalam stigma negatif, seakan-akan identik dengan tindakan intimidasi terhadap warga. Bagi GRIB Jaya, cara bicara seperti itu bukan sekadar kritik, melainkan bentuk penghinaan dan upaya mendiskreditkan organisasi.
Ia menegaskan bahwa kehadirannya di Medan bersama Ketua DPD GRIB Jaya Sumut, Samsul Tarigan, bertujuan memberi klarifikasi atas informasi yang dinilai merugikan ormas tersebut. Razman juga menilai, sebagai pejabat publik, Dedi semestinya menjaga etika dalam menyampaikan pernyataan agar tidak memperlebar persoalan.
Pesan Hercules untuk Dedi Mulyadi
Dalam kesempatan itu, Razman turut menyampaikan pesan dari Ketua Umum GRIB Jaya, Hercules, yang meminta Dedi Mulyadi kembali fokus pada tugas pokoknya sebagai kepala daerah. Menurut dia, peran seorang gubernur adalah menjalankan fungsi pamong praja, bukan memperuncing situasi dengan pernyataan yang dinilai menyerempet organisasi tertentu.
Pernyataan keras ini menambah panjang sorotan publik terhadap hubungan antara pemerintah daerah dan organisasi masyarakat di Jawa Barat, terutama setelah isu satgas antipremanisme menjadi perbincangan. Di tengah situasi tersebut, GRIB Jaya tampak ingin menegaskan bahwa mereka tidak ingin diposisikan sebagai pihak yang harus selalu berhadapan dengan narasi keamanan dan ketertiban.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.












