Pemerintah Indonesia kembali menjadi sorotan setelah menyalurkan hibah senilai 6 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp100 miliar kepada pemerintah Fiji. Di tengah dorongan efisiensi anggaran di dalam negeri, keputusan ini langsung memicu perdebatan publik, terutama karena banyak warga masih merasakan tekanan harga kebutuhan pokok. Salah satu kritik datang dari pegiat media sosial Hansolo, dengan akun @arifin34533, yang menilai kebijakan tersebut terasa janggal ketika masyarakat diminta berhemat dalam hal kecil, sementara dana pajak justru mengalir ke negara lain.
Hibah Diserahkan Langsung di Istana Merdeka
Presiden Prabowo Subianto menyerahkan hibah itu secara langsung kepada Perdana Menteri Fiji, Sitiveni Rabuka, di Istana Merdeka. Dalam keterangannya, Prabowo menyebut bantuan tersebut sebagai bagian dari komitmen Indonesia untuk mendukung pengembangan sektor pertanian Fiji melalui pelatihan regional. Langkah ini juga diposisikan sebagai upaya mempererat hubungan kedua negara di kawasan Pasifik.
Fokus pada Pendidikan dan Kemitraan Pasifik
Selain dukungan di sektor pertanian, Indonesia juga membuka kesempatan bagi pemuda dan pemudi Fiji untuk belajar di berbagai lembaga pendidikan di Tanah Air. Prabowo menegaskan adanya peningkatan beasiswa sebagai bagian dari penguatan hubungan bilateral sekaligus memperluas kerja sama dengan negara-negara Pasifik. Di satu sisi, kebijakan ini menunjukkan ambisi diplomasi yang lebih aktif; di sisi lain, respons publik memperlihatkan bahwa penyaluran dana keluar negeri tetap akan diuji oleh persepsi masyarakat terhadap prioritas anggaran nasional.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.










