Tips Mau Ditelepon Pejabat? Akbar Faizal Sindir Fenomena Premanisme di Indonesia
Akbar Faizal kembali menarik perhatian publik lewat pernyataan singkat namun tajam di media sosial pribadinya. Mantan anggota DPR RI yang juga berlatar belakang jurnalis itu menyoroti fenomena premanisme yang belakangan ramai dibicarakan di Indonesia, lalu membungkus kritiknya dengan sindiran yang cukup keras.
Sindiran untuk Mereka yang Mengagumi Premanisme
Dalam cuitannya, Akbar Faizal menyinggung anggapan bahwa menjadi preman justru bisa membuka jalan untuk mendapat perhatian dari pejabat tinggi. Ia menyebut ada pola pikir yang keliru ketika seseorang seolah menjadikan premanisme sebagai sesuatu yang layak diidolakan. Lewat kalimat yang lugas, ia mengajak publik untuk mengubah cara pandang itu sejak malam ini juga.
Pesan yang ia sampaikan sederhana, tetapi menohok: jangan lagi bermimpi menjadi preman, apalagi menjadikannya sebagai kebanggaan. Menurut Akbar, jauh lebih baik jika seseorang bercita-cita menjadi warga negara yang baik, bukan justru menempatkan premanisme sebagai sesuatu yang dianggap keren.
Ajakan untuk Mengubah Mimpi
Akbar Faizal menggunakan gaya bahasa sindiran untuk menekankan bahwa ada yang salah ketika premanisme justru mendapat ruang pembenaran di ruang publik. Ia menilai cara berpikir seperti itu kampungan, karena bertolak belakang dengan nilai kewargaan yang semestinya dijunjung tinggi. Dalam pesannya, ia tidak sekadar mengkritik, tetapi juga mendorong orang untuk membayangkan ulang mimpi dan arah hidup mereka.
Ungkapan “ubah mimpimu malam ini” menjadi inti dari pernyataannya. Kalimat itu seolah ditujukan kepada siapa pun yang masih memandang premanisme sebagai jalan pintas untuk memperoleh pengaruh, perhatian, atau kedekatan dengan kekuasaan. Akbar memilih menyampaikan kritiknya dengan nada tajam agar pesan yang ia maksud tidak kehilangan daya gedor.
Pesan Keras soal Warga Negara yang Baik
Di tengah maraknya sorotan terhadap premanisme, komentar Akbar Faizal memperlihatkan penolakannya terhadap budaya yang mengglorifikasi tindakan kasar atau intimidatif. Ia menempatkan menjadi warga negara yang baik sebagai pilihan yang lebih bermartabat dibanding memimpikan posisi sebagai preman. Dengan cara itu, ia menegaskan bahwa kebanggaan sejati bukan berasal dari rasa takut orang lain, melainkan dari sikap yang tertib dan bertanggung jawab.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.










