Berita  

Prof Surya Mahdi: Dampak Negatif Universitas Abal-abal pada Pendidikan

Prof. Surya Mahdi, seorang akademisi Indonesia dari University of Bristol, Inggris, secara tajam mengkritik praktik pendidikan yang tidak tepat. Ia menyoroti kerja sama antara lembaga nonformal dan universitas asing yang hanya bertujuan untuk mencari keuntungan semata. Kritik tersebut muncul sebagai tanggapan atas pernyataan dari Peneliti dan Dosen Melanie Bitenzorgy yang mengungkap kejanggalan terkait ijazah Gibran yang baru-baru ini viral.

Menurut Prof. Surya, banyak orang tua di Indonesia yang dimanfaatkan secara psikologis dan finansial karena terkecoh dengan iming-iming gelar cepat untuk anak-anak mereka. Ia menilai bahwa kementerian terkait, seperti Kementerian Pendidikan Dasar-Menengah dan Kementerian Pendidikan Tinggi, kurang responsif dalam menghadapi tren negatif ini. Surya juga mencatat bahwa ada kesempatan bagi anak usia 16 tahun untuk langsung masuk ke tahun ketiga kuliah di luar negeri tanpa memiliki ijazah resmi seperti SMP atau SMA.

Prof. Surya pun menunjukkan keheranannya terhadap fakta bahwa ada beberapa universitas asing yang menerima mahasiswa tanpa pengetahuan dasar seperti A Level atau IB. Menurutnya, ada kesenjangan dalam sistem pendidikan yang dimanfaatkan oleh beberapa universitas asing, yang menjual program “franchise” pendidikan pra-universitas kepada lembaga nonformal di negara-negara seperti Indonesia dan Singapura.

Program ini, yang ditawarkan kepada siapa pun tanpa standar resmi pendidikan, menciptakan celah bagi siapa saja yang ingin membayar dan lulus tes internal. Dengan demikian, pendidikan di bawah naungan lembaga nonformal ini memperlihatkan kerentanannya tanpa adanya pengawasan yang ketat dalam penerimaan mahasiswa.

Source link