Kerja Sama Multilateral Jadi Kunci Keamanan Siber Global

Persoalan keamanan dunia modern kini semakin rumit sejak hadirnya ruang siber sebagai area strategis baru yang tanpa batas fisik. Pada konferensi mahasiswa pascasarjana Hubungan Internasional (IPGSC) di Universitas Indonesia akhir Oktober 2025, Dr. Sulistyo, selaku Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Pemerintahan serta Pembangunan Manusia di Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), menyoroti bagaimana meningkatnya kompleksitas ancaman dan peluang akibat karakter borderless dari ruang maya.

Keunikan ruang siber terletak pada tiadanya batas geografis yang jelas. Tak ada satu pun negara maupun otoritas global yang memiliki kendali tunggal, sehingga segala aktivitas siber berlangsung lintas batas dan lintas yurisdiksi. Kondisi inilah yang membedakan siber dari lingkungan fisik seperti daratan, lautan, atau udara, di mana batas dan hukum lebih tegas.

Karakter tak berbatas inilah yang memperlihatkan esensi ruang siber bukan hanya sekedar kemajuan infrastruktur digital. Keamanan dan stabilitas global sangat bergantung pada penanganan aktivitas siber. Menurut Dr. Sulistyo, ancaman di ruang siber tidak mengenal negara dan pelaku. Siapapun dapat melancarkan serangan dari lokasi mana saja, yang dampaknya bisa mengenai siapa saja tanpa memedulikan jarak atau konvensi kedaulatan.

Ketika data, informasi, dan sistem vital dapat diretas dalam beberapa detik tanpa kendala jarak, upaya pelacakan pelaku menjadi berat. Negara-negara menghadapi dilema baru: mempertahankan kedaulatannya di dunia nyata saja tidak cukup, mereka harus hadir pula di wilayah virtual yang dinamis. Penegakan aturan sulit, apalagi dengan dominasi aktor-aktor bukan negara seperti kelompok kriminal siber maupun organisasi yang berkepentingan politik.

Situasi inilah yang rentan dimanfaatkan berbagai pihak. Kini peretas, penipu, bahkan penyerang siber yang disponsori negara dapat menggerakkan aksinya dari mana saja, tanpa harus menyeberangi perbatasan klasik atau tampil secara fisik. Sifat borderless ikut merombak pola ancaman dan menuntut perubahan paradigma keamanan nasional maupun internasional.

Rusaknya ekonomi, intervensi terhadap dinamika politik, hingga terganggunya keamanan regional kini dapat terjadi hanya melalui konflik siber tanpa perlu aksi militer. Perang baru tidak selalu diiringi pengumuman resmi ataupun pengerahan senjata; cukup dengan perangkat digital dan jaringan internet. Oleh sebab itu, negara-negara besar pun berlomba mengembangkan keunggulan di ranah digital—baik melalui teknologi AI, komputer kuantum, sampai jaringan 5G—guna memperkokoh posisi mereka dalam geopolitik dunia maya.

Dalam menghadapi tantangan ini, Indonesia memilih jalur diplomasi aktif namun bebas. Dr. Sulistyo menegaskan perlunya keterlibatan aktif di fora global semisal ASEAN dan PBB untuk memperjuangkan tata kelola ruang siber yang adil dan tidak memihak kepentingan tertentu saja. Pemerintah mendorong lahirnya norma perilaku negara, peningkatan kepercayaan antarpihak, penanganan insiden antar-negara, serta penguatan kapasitas kolektif menghadapi bahaya siber global.

Keamanan siber nasional tidak bisa berjalan sendiri. Dr. Sulistyo memaparkan bahwa sinergi internasional, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pembangunan sistem pertahanan siber yang canggih harus berjalan beriringan. Investasi pada pengembangan talenta digital menjadi syarat mutlak agar Indonesia tidak tertinggal. Negara manapun, kata beliau, tidak bisa sepenuhnya aman tanpa peran serta komunitas global dan komitmen berkelanjutan.

Pada akhirnya, keamanan siber sudah menjadi fondasi keamanan internasional. Kestabilan suatu negara, dalam era borderless digital, akan selalu terkait erat dengan keamanan siber negara-negara lain. Untuk itu, seluruh negara perlu beradaptasi dengan tantangan ini agar tatanan dunia maya tetap aman, adil, dan berkelanjutan bagi semua pihak.

Sumber: Ruang Siber Yang Borderless Mengubah Peta Keamanan Internasional, Ini Sikap Indonesia
Sumber: Ruang Siber Yang Borderless Dan Implikasinya Bagi Keamanan Internasional: Perspektif Indonesia