Pegiat media sosial, Herwin Sudikta, terheran-heran dengan pidato Presiden Prabowo Subianto yang menyebut generasi muda Indonesia tidak seharusnya melupakan peran Amerika Serikat (AS) dalam sejarah Indonesia. Herwin mempertanyakan narasi yang dianggapnya terlalu menonjolkan peran AS dalam proses kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, tekanan AS terhadap Belanda bukan semata-mata karena simpati terhadap perjuangan Indonesia, namun lebih didorong oleh kepentingan politik global di tengah rivalitas blok Barat dan Timur.
Herwin menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari perjuangan panjang rakyat sendiri, bukan pemberian pihak luar, seperti yang disampaikan oleh Prabowo. Dia menekankan bahwa kedaulatan bukanlah hasil dari belas kasihan, melainkan dari perlawanan. Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto mengajak generasi muda agar tidak melupakan jejak panjang peran AS dalam perjalanan bangsa Indonesia, terutama saat menghadapi masa sulit. Prabowo mengingatkan pentingnya memahami kontribusi AS dalam dinamika politik dan ekonomi Indonesia sejak awal kemerdekaan.
Prabowo juga menuturkan bahwa dukungan AS telah hadir dalam sejumlah fase krusial, termasuk saat Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaan. Dia mengakui bahwa Amerika Serikat merupakan salah satu mitra terkuat Indonesia dan telah memberikan bantuan dalam situasi kritis, termasuk melalui program pangan PL 480 pada dekade 1960-an. Pesan dari Prabowo ini disampaikan saat menghadiri Business Summit bersama US Chamber of Commerce di Washington DC, mengingatkan generasi penerus bangsa untuk tidak melupakan sejarah penting ini.












