Berita  

Pakar Unair: Prabowo Benci Pakar, Mirip Trump hingga Mao

Presiden Prabowo Subianto mendapat sorotan setelah menyampaikan pernyataan mengenai pakar dalam sebuah pidato. Ucapannya yang menyinggung pakar dengan ungkapan “saking pintarnya” dinilai memunculkan kesan bahwa ia memiliki sikap negatif terhadap kalangan ahli.

Penilaian tersebut tidak disampaikan sebagai fakta yang telah terkonfirmasi, melainkan sebagai tafsir terhadap cara Presiden Prabowo menyampaikan pandangannya. Dari pernyataan yang tersedia, sorotan terutama diarahkan pada pilihan kata dan gaya komunikasi yang digunakan ketika membahas pakar.

Pernyataan tentang pakar menjadi sorotan

Dalam pidatonya, Prabowo menyebut pakar dengan kalimat yang menekankan tingkat kepintaran mereka. Bagian pernyataan itu kemudian menjadi dasar munculnya anggapan bahwa Presiden membenci atau tidak menyukai pakar.

Namun, informasi yang tersedia tidak memuat keseluruhan pidato maupun konteks lengkap pernyataan tersebut. Karena itu, penilaian mengenai sikap Prabowo terhadap pakar tetap perlu ditempatkan sebagai interpretasi atas ucapannya, bukan sebagai pernyataan langsung bahwa Presiden membenci kelompok tersebut.

Sorotan terhadap pernyataan itu berkaitan dengan posisi pakar dalam komunikasi publik. Ketika seorang pejabat menyampaikan komentar mengenai ahli, pilihan bahasa dapat memengaruhi cara publik memahami hubungan antara pemerintah dan kalangan yang memiliki keahlian tertentu.

Gaya komunikasi dibandingkan dengan Trump dan Mao

Seorang pakar komunikasi dari Universitas Airlangga turut menyoroti gaya komunikasi Prabowo. Dalam penilaian yang dikaitkan dengan isu tersebut, gaya komunikasi Presiden disebut memiliki kemiripan dengan gaya komunikasi Donald Trump hingga Mao.

Perbandingan itu diarahkan pada cara Prabowo menyampaikan pesan, bukan pada kesamaan seluruh pandangan atau kebijakan dengan kedua tokoh tersebut. Penyebutan nama Trump dan Mao menjadi bagian dari penilaian komunikasi yang muncul setelah pernyataan Prabowo tentang pakar mendapat perhatian.

Dengan demikian, terdapat dua hal yang menjadi pokok sorotan: isi pernyataan Prabowo mengenai pakar dan gaya penyampaiannya. Pernyataan tentang “saking pintarnya” dipahami sebagai alasan munculnya anggapan bahwa Presiden membenci pakar, sementara pengamat komunikasi menilai gaya penyampaiannya memiliki kemiripan dengan Trump dan Mao.

Belum ada informasi lebih lanjut mengenai konteks lengkap pidato tersebut ataupun tanggapan lanjutan Presiden Prabowo terkait penilaian itu. Posisi yang tersedia saat ini masih berupa sorotan terhadap pernyataan dan gaya komunikasi Presiden.

Source link