Suporter PSIM dan PSS Berdamai, Ini Sejarah Perseteruannya

Empat kelompok suporter PSIM Yogyakarta dan PSS Sleman menandatangani kesepakatan untuk menjaga keamanan serta keharmonisan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjelang Derbi Mataram pada BRI Super League 2026/2027. Kesepakatan itu dibuat di Mapolda DIY, Rabu (16/9), ketika rivalitas kedua klub kembali memasuki fase penting di kompetisi kasta tertinggi.

Kelompok yang terlibat ialah Brajamusti dan Mataram Independent (The Maident) dari kubu PSIM, serta Slemania dan Brigata Curva Sud (BCS) dari kubu PSS. Penandatanganan disaksikan oleh manajemen kedua klub, Match Organizing Committee (MOC), Wali Kota Yogyakarta, Bupati Sleman, Asprov PSSI DIY, dan jajaran Polda DIY.

Dalam kesepakatan tersebut, suporter menyatakan komitmen untuk menjaga keamanan pertandingan, menghindari provokasi, serta tidak melakukan tindakan anarkis di dalam maupun di luar stadion. Mereka juga berjanji menjaga ketertiban lalu lintas saat menuju dan meninggalkan stadion, tidak membawa barang berbahaya, serta menghindari narasi negatif di media sosial.

Rivalitas panjang dua klub asal DIY

PSIM bermarkas di Kota Yogyakarta, sedangkan PSS berasal dari Kabupaten Sleman. Pertemuan kedua klub dikenal sebagai Derbi Mataram, nama yang merujuk pada sejarah kawasan Mataram yang berkaitan erat dengan Yogyakarta dan wilayah sekitarnya.

Rivalitas tersebut mendapat perhatian lebih besar ketika PSS promosi ke kasta teratas pada musim 1999/2000, sementara PSIM harus turun ke kasta kedua. Kedekatan wilayah dan besarnya basis pendukung kemudian membuat persaingan antarklub berkembang menjadi perseteruan di antara kelompok suporter.

Penelitian Universitas Gadjah Mada mengenai konflik Slemania dan Brajamusti mencatat, perselisihan kedua kelompok telah berlangsung sejak sekitar 2000. Atribut klub dan fanatisme disebut menjadi salah satu faktor yang dapat memicu gesekan dalam sejumlah periode kompetisi.

Catatan kelam terjadi pada 22 Mei 2016. Bentrokan di Jalan Magelang KM 14 menyebabkan pendukung PSS, Stanislaus Gandhang Deswara, meninggal dunia. Pada 26 Juli 2018, Muhammad Iqbal Setyawan, yang disebut sebagai penonton non-suporter, juga meninggal setelah menjadi korban pengeroyokan dalam kerusuhan yang berkaitan dengan laga Derbi Mataram.

Upaya rekonsiliasi dan agenda derbi

Upaya meredakan rivalitas telah dilakukan sebelumnya. Pada April 2018, Polda DIY mempertemukan perwakilan Brajamusti, The Maident, Slemania, dan BCS dalam acara Rekonsiliasi dan Paseduluran Suporter. Mereka saat itu diajak membuat ikrar bersama untuk menjaga keamanan pertandingan.

Menjelang musim 2026/2027, komitmen kembali diperluas. Suporter menyatakan tidak akan melakukan pengrusakan, penganiayaan, pembakaran, penghadangan, atau tindakan melanggar hukum terhadap pemain maupun pendukung lawan. Klub dan suporter juga siap menerima pengalihan lokasi pertandingan apabila kondisi keamanan dinilai tidak memungkinkan.

Derbi Mataram pertama musim ini dijadwalkan berlangsung pada 10 Desember 2026 di Stadion Sultan Agung, Bantul, dengan PSIM sebagai tuan rumah. Laga itu menandai kembalinya PSS ke kompetisi kasta tertinggi setelah sebelumnya bermain di Liga 2 atau Championship. PSIM sendiri menjalani musim kedua di level tertinggi setelah promosi.

Kehadiran penonton masih menunggu evaluasi keamanan. Polda DIY menyatakan keputusan teknis akan ditentukan berdasarkan analisis dan perkembangan situasi menjelang pertandingan.

Perwakilan suporter PSIM, Rendi Agung, menyatakan pihaknya akan menjaga kondisi kelompok pendukung hingga tingkat akar rumput. Sementara itu, perwakilan Slemania, Tato Indarto, menilai komitmen tersebut diperlukan untuk menjaga nama baik sepak bola di Sleman dan Yogyakarta.

Source link