Menjaga kesehatan jantung perlu dilakukan sebelum muncul keluhan atau diagnosis penyakit. Kebiasaan sehari-hari seperti bergerak aktif, memilih makanan yang lebih sehat, tidur cukup, serta memantau tekanan darah dapat membantu mengendalikan faktor risiko penyakit kardiovaskular.
Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian terbesar di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 19,8 juta orang meninggal akibat penyakit tersebut pada 2022, atau sekitar 32 persen dari seluruh kematian global. Sebagian besar risikonya berkaitan dengan faktor yang dapat dikendalikan, seperti pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, penggunaan tembakau, dan obesitas.
Di Indonesia, penyakit kardiovaskular juga menjadi beban kesehatan dan pembiayaan. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan pembiayaan penyakit kardiovaskular, termasuk jantung dan stroke, mencapai Rp22,8 triliun pada 2023 dalam program Jaminan Kesehatan Nasional.
Kebiasaan yang dapat dilakukan setiap hari
Aktivitas fisik rutin membantu menjaga kebugaran jantung, mengendalikan berat badan, serta menekan sejumlah faktor risiko, termasuk tekanan darah. Orang dewasa dianjurkan melakukan sedikitnya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang per minggu atau 75 menit aktivitas intensitas berat. Durasi tersebut dapat dibagi ke dalam beberapa sesi.
Berjalan kaki, bersepeda, naik turun tangga, dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga dapat menjadi bagian dari aktivitas fisik harian. Selain bergerak aktif, pola makan juga perlu diperhatikan. Sayur, buah, kacang-kacangan, biji-bijian, dan sumber protein yang sehat dapat diperbanyak, sementara makanan tinggi garam, gula, lemak tidak sehat, dan makanan ultra-proses sebaiknya dibatasi.
WHO merekomendasikan orang dewasa dan anak berusia lebih dari 10 tahun mengonsumsi sedikitnya 400 gram buah dan sayuran setiap hari. Asupan garam juga dianjurkan kurang dari 5 gram per hari, atau setara dengan kurang dari 2 gram natrium. Penerapannya dapat dimulai dengan menambah sayuran dalam menu dan memilih buah sebagai camilan.
Berhenti merokok merupakan langkah penting karena zat dalam asap rokok dapat memengaruhi pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung serta pembuluh darah. Menghindari asap rokok dari orang lain juga diperlukan karena paparan asap rokok pasif turut meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Tidur dan pemeriksaan kesehatan
Orang dewasa umumnya membutuhkan tidur sekitar tujuh hingga sembilan jam setiap malam. Kurang tidur dan kualitas tidur yang buruk berkaitan dengan sejumlah faktor risiko kardiovaskular, termasuk tekanan darah tinggi. Menjaga waktu tidur dan bangun yang relatif konsisten dapat membantu membentuk pola tidur yang lebih baik.
Tekanan darah juga perlu diperiksa secara berkala karena hipertensi sering tidak menimbulkan gejala. Padahal, kondisi ini dapat meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, dan gagal jantung. Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran tekanan darah sebesar 30,8 persen pada penduduk berusia 18 tahun ke atas. Berdasarkan diagnosis dokter, angkanya 8,6 persen.
Pemeriksaan rutin membantu menemukan kondisi yang belum disadari. Jika hasil pengukuran terus berada di atas batas normal, konsultasi dengan tenaga kesehatan diperlukan.
Berat badan, gula darah, dan kolesterol
Kelebihan berat badan berkaitan dengan peningkatan risiko tekanan darah tinggi, diabetes, dan gangguan kardiovaskular. Pemeriksaan gula darah dan kolesterol dapat membantu mengenali faktor risiko yang mungkin belum menimbulkan gejala. Pengidap diabetes, hipertensi, atau kolesterol tinggi perlu mengendalikan kondisinya melalui pola hidup dan pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Kebiasaan sehat tidak menghapus seluruh risiko karena usia, riwayat keluarga, dan kondisi medis tertentu juga berpengaruh. Bila muncul nyeri atau rasa tertekan di dada, sesak napas, keringat dingin, pusing, atau nyeri yang menjalar ke lengan, rahang, maupun punggung, segera cari pertolongan medis.












