Penunjukan Thaksin Shinawatra sebagai anggota Dewan Penasihat Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara atau Danantara langsung memantik sorotan publik. Nama mantan Perdana Menteri Thailand itu menjadi perhatian bukan semata karena posisinya yang baru, melainkan karena rekam jejak politiknya yang selama ini lekat dengan berbagai tuduhan korupsi dan kontroversi.
Ernest Prakasa soroti pilihan Danantara
Komika Ernest Prakarsa ikut menanggapi pengumuman resmi susunan pengurus BPI Danantara. Melalui unggahan di media sosial pribadinya, ia melontarkan kritik tajam atas masuknya Thaksin ke dalam struktur lembaga tersebut. Dalam sindirannya, Ernest menyebut penunjukan itu seperti “impor koruptor”, sekaligus mempertanyakan bagaimana posisi para koruptor di Indonesia ketika figur dengan latar belakang kontroversial justru diberi tempat penting.
Nama Thaksin kembali disorot
Thaksin Shinawatra bukan nama baru dalam panggung politik Thailand. Ia dikenal luas sebagai tokoh yang pernah memimpin negara tersebut, namun masa jabatannya juga dibayangi tuduhan korupsi dan skandal politik. Salah satu kasus yang kerap disebut adalah perkara terkait saham Shin Corp, yang ikut menyeret namanya ke dalam pusaran kritik dan membuat reputasinya terus diperdebatkan hingga kini.
Kontroversi yang belum reda
Di tengah penunjukan ini, polemik lama Thaksin kembali mencuat ke permukaan. Bagi sebagian pihak, kehadirannya di Danantara dianggap problematis karena latar belakangnya tidak lepas dari kasus-kasus yang pernah mengguncang politik Thailand. Situasi ini membuat keputusan tersebut tidak hanya dibaca sebagai langkah organisasi, tetapi juga sebagai isu yang menyentuh soal integritas dan sensitivitas publik terhadap figur yang pernah tersangkut kontroversi besar.
Berita ini disadur dari Fajar.co.id.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.










