Di tengah arus informasi yang tak pernah berhenti, kebiasaan membaca berita buruk berulang-ulang atau doomscrolling kian mudah menjebak siapa saja. Sekilas tampak seperti upaya untuk tetap terinformasi, tetapi jika dilakukan terus-menerus, pola ini justru bisa menggerus kesehatan mental. Paparan kabar negatif tanpa jeda kerap memicu stres, memperkuat rasa cemas, bahkan dapat mendorong munculnya gejala depresi.
Ketika Berita Negatif Menjadi Kebiasaan
Masalahnya bukan hanya pada isi berita, melainkan pada intensitas konsumsi yang berlebihan. Dengan akses informasi yang nyaris tanpa batas, banyak orang akhirnya terjebak dalam siklus membuka layar, membaca kabar buruk, lalu kembali mencari kabar lain yang serupa. Kebiasaan ini membuat tubuh dan pikiran terus berada dalam kondisi siaga, seolah-olah ancaman ada di mana-mana.
Perilaku memantau media sosial tanpa henti juga ikut memperburuk keadaan. Alih-alih merasa lebih paham terhadap situasi, seseorang justru bisa semakin gelisah, tidak puas, dan sulit melepaskan diri dari perasaan negatif yang menumpuk.
Dampaknya Bisa Menyentuh Tidur dan Cara Pandang
Efek buruk doomscrolling tidak berhenti pada rasa cemas semata. Membaca berita buruk menjelang tidur dapat mengacaukan kualitas istirahat, karena otak tetap terpicu untuk berpikir aktif dan waspada. Akibatnya, waktu tidur menjadi kurang tenang dan tubuh tidak benar-benar mendapat pemulihan yang cukup.
Dalam jangka lebih panjang, konsumsi berita negatif yang berlebihan juga bisa membentuk pandangan dunia yang pesimistis. Seseorang dapat merasa seolah-olah semua hal di sekitarnya berjalan buruk, padahal yang diterima hanya potongan informasi yang paling menekan emosi.
Langkah Sederhana untuk Mengurangi Tekanan
Untuk menekan dampaknya, pembatasan waktu membaca berita harian menjadi langkah yang paling masuk akal. Memilih sumber berita yang lebih seimbang dan tidak hanya dipenuhi kabar buruk juga dapat membantu menjaga jarak emosional dari informasi yang memicu stres.
Mengganti sebagian konsumsi berita negatif dengan konten yang lebih positif bisa memberi ruang bagi pikiran untuk kembali stabil. Di luar itu, melakukan aktivitas yang menyenangkan—apa pun bentuknya—dapat menjadi jeda penting untuk meredakan kecemasan. Intinya, tetap mengikuti perkembangan isu memang perlu, tetapi tidak harus sampai mengorbankan ketenangan diri.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.












