Menteri Agama Nasaruddin Umar mengawali acara Ngaji Budaya Tradisi Muharam di Nusantara di Auditorium HM Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, Menag menekankan pentingnya tradisi Muharam dan kegiatan Ngaji Budaya sebagai sarana untuk mempertajam hati nurani serta merawat batin umat beragama. Menag juga menegaskan bahwa Ngaji Budaya bukan hanya sekadar ritual fisik, tetapi juga merupakan simbol penundukan batin manusia di hadapan Tuhan.
Tradisi ngaji budaya, menurut Menag, merupakan bagian dari Sujud Budaya yang harus dijaga keberlangsungannya di tengah keragaman agama. Seni dan budaya memiliki peran besar dalam membentuk kedalaman hati seseorang. Seni dianggap sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Menag mengutip pesan dari Imam Ghazali yang menyatakan bahwa orang yang tidak memiliki rasa seni, hatinya akan menjadi kering.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, juga turut memberikan pesan dalam acara Ngaji Budaya tersebut. Ia menekankan pentingnya agar tradisi Muharam dapat dipahami dan dihayati oleh seluruh masyarakat Indonesia. Muharam sendiri memiliki beragam tradisi di berbagai daerah dan suku di Nusantara. Misalnya, di Semarang, tradisi mandi di sungai dekat Tugu Soeharto pada malam satu Syuro dilakukan sebagai bentuk permohonan doa kepada Tuhan untuk mendapatkan energi dan semangat baru menyambut Tahun Baru Hijriah.
Kegiatan Ngaji Budaya Tradisi Muharam menegaskan bahwa kecintaan kepada Tuhan dapat diperoleh melalui seni. Dengan demikian, membaca Al-Qur’an atau melantunkan azan harus dilakukan dengan keindahan agar hati nurani kita semakin terasah. Acara ini merupakan salah satu upaya untuk menajamkan dan merawat hati nurani umat serta mempertahankan kekayaan budaya dan tradisi di Indonesia.












