President Prabowo’s Special Connection with Farmers | PCO

Prabowo dan Petani: Kedekatan Lama yang Kini Ditarik ke Arah Ketahanan Pangan

Di tengah dorongan besar pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan, nama Presiden Prabowo Subianto kembali dikaitkan dengan satu kelompok yang sejak lama disebut punya tempat khusus di hatinya: para petani. Bagi Dedek Prayudi, Senior Expert di Kantor Komunikasi Presiden (PCO), hubungan itu bukan sekadar slogan politik, melainkan jejak pengalaman panjang yang terbentuk dari dua fase penting dalam hidup Prabowo.

Dua Momen yang Membentuk Kedekatan

Dedek Prayudi, yang akrab disapa Uki, menjelaskan bahwa kedekatan Prabowo dengan petani setidaknya berakar dari dua peristiwa besar. Pertama, saat Prabowo masih aktif sebagai perwira militer dan banyak mendapat bantuan dari masyarakat desa, termasuk para petani. Kedua, ketika ia memimpin Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), yang memperkuat interaksinya dengan dunia pertanian secara langsung.

“Momen pertama terjadi selama masa dinas aktifnya sebagai perwira militer, ketika ia menerima banyak bantuan dari masyarakat setempat dan petani. Momen kedua adalah ketika ia memimpin Dewan Kemajuan Petani Indonesia (HKTI),” ujar Dedek pada Rabu, 13 Agustus 2025.

Panen Jagung di Bengkulu Jadi Sorotan

Pernyataan itu disampaikan Uki saat menghadiri panen jagung besar-besaran dalam Program Ketahanan Pangan yang dipimpin Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Desa Jenggalu, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu. Momentum panen tersebut sekaligus menjadi contoh bagaimana program pangan diarahkan bukan hanya untuk meningkatkan produksi, tetapi juga untuk memastikan petani benar-benar merasakan manfaatnya.

Uki menegaskan bahwa ketahanan pangan menjadi isu mendesak di tengah kondisi global yang tidak menentu. Menurut dia, Indonesia harus mengurangi ketergantungan pada pasokan pangan dari luar negeri, sebab gangguan ekspor dari negara-negara produsen besar seperti India, Brasil, dan Cina bisa langsung memicu lonjakan harga pangan dunia dan berdampak ke dalam negeri.

Dorongan Agar Petani Tak Terhambat Administrasi

Dalam kesempatan itu, Uki juga mengingatkan agar hambatan administratif tidak sampai membuat petani kehilangan akses terhadap fasilitas yang sudah disediakan pemerintah. Ia meminta kepala desa Jenggalu mempercepat urusan administrasi supaya petani bisa segera memperoleh pupuk subsidi.

“Hari ini, panen jagung sekitar 10 ton dari 1,5 hektar lahan. Dengan dukungan pemerintah—pupuk subsidi, pestisida, atau mesin pertanian—luas tanam dan hasil akan terus bertambah, dan petani akan lebih termotivasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, hingga Agustus baru sekitar 47 persen alokasi pupuk subsidi yang terserap. Karena itu, menurutnya, fasilitas yang sudah disiapkan negara seharusnya tidak dibiarkan mengendap tanpa dimanfaatkan. “Kami tidak hanya menginginkan kapasitas produksi yang lebih tinggi, namun juga kebahagiaan petani,” kata Uki.

Bapanas dan Bulog Didorong Serap Hasil Panen

Dukungan terhadap program itu juga datang dari Badan Pangan Nasional. Kelik Budianan, Kepala Pusat Data dan Informasi Pangan di Bapanas, menyatakan lembaganya tengah berkoordinasi dengan Bulog untuk menyerap hasil panen jagung petani. Langkah ini disebut penting agar panen yang dihasilkan tidak berhenti di lahan, tetapi masuk ke rantai pasok yang lebih luas.

Kelik juga menyebut pihaknya sedang berupaya mengintegrasikan rantai pasok antara petani dan peternak. Dengan skema itu, harga tanaman yang baik diharapkan ikut memberi dampak positif terhadap biaya pakan dan harga ternak. Dalam kegiatan tersebut, Kelik hadir bersama Kepala Kecamatan Sukaraja Ramlan Effendi, Kepala Desa Jenggalu Johni Midarling, Maret Samuel Sueken selaku Ketua Jaringan Bantuan Kebijakan Pembangunan Nasional (JPKP), perwakilan Pupuk Indonesia, serta warga Jenggalu.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.