Perdebatan soal gaya kepemimpinan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali memantik respons keras dari Ferdinand Hutahaean. Politikus PDIP itu menanggapi pernyataan Kepala Staf Kepresidenan M. Qodari yang menggambarkan Purbaya sebagai sosok yang “kekoboi” dalam memimpin Kementerian Keuangan. Di tengah sorotan publik terhadap gaya ceplas-ceplos Purbaya, Ferdinand justru melihat ada jarak yang cukup lebar antara pendekatan Purbaya dan pendahulunya, Sri Mulyani.
Ferdinand Soroti Perbedaan Gaya Purbaya dan Sri Mulyani
Menurut Ferdinand, Sri Mulyani dikenal lebih berhati-hati dalam menyampaikan kebijakan maupun pandangan, sementara Purbaya dinilai tampil lebih agresif dan terbuka. Perbedaan karakter itu, bagi Ferdinand, menjadi pembeda yang sangat terasa di tengah kabinet Merah Putih. Gaya Purbaya dianggap membawa warna baru, tetapi sekaligus menimbulkan kontroversi karena dinilai terlalu berani dalam komunikasi publik.
Qodari Sebut Purbaya Segar, Kritik Balasan Pun Menguat
Pernyataan Qodari yang menilai gaya Purbaya sebagai sesuatu yang berbeda dan segar rupanya tidak diterima bulat-bulat. Ferdinand menegaskan bahwa penilaian semacam itu perlu dilihat lebih kritis, terutama ketika menyangkut posisi strategis seperti Menteri Keuangan. Di titik inilah perdebatan menguat: apakah gaya lugas Purbaya memang tanda keberanian, atau justru berisiko menimbulkan kegaduhan di ruang kebijakan.
Anthony Budiawan: Masalahnya Bukan Kurang Likuiditas
Di sisi lain, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, menilai kebijakan yang tengah dibahas sulit mendorong pertumbuhan ekonomi jika masalah dasarnya tidak dipahami dengan tepat. Ia menyebut persoalan utama saat ini bukan kekurangan likuiditas, melainkan justru sebaliknya. Menurut Anthony, likuiditas di dalam negeri masih sangat melimpah, salah satunya tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan yang relatif tinggi.
Anthony juga menyoroti penempatan dana perbankan pada instrumen negara yang nilainya mencapai Rp1.900 triliun. Dari situ, ia menyimpulkan bahwa likuiditas perbankan nasional sebenarnya dalam kondisi berlebih. Pandangan ini menambah lapisan baru dalam perdebatan seputar arah kebijakan ekonomi, sekaligus menunjukkan bahwa sorotan terhadap Purbaya tak hanya soal gaya bicara, tetapi juga soal substansi kebijakan yang dinilai masih menyisakan tanda tanya.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.












