Berita  

Analisis Jokowi Bergabung PSI dan Projo Tetap Berjuang

Analisis Jokowi Bergabung PSI dan Projo Tetap Berjuang

Pernyataan Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, soal kemungkinan organisasi relawan itu berubah menjadi partai politik dibaca berbeda oleh pengamat politik dan ekonomi Heru Subagia. Bagi Heru, wacana tersebut lebih dekat sebagai manuver komunikasi politik ketimbang langkah serius yang segera diwujudkan. Ia menilai, isu itu sengaja dimunculkan untuk menjaga perhatian publik agar Projo tetap relevan di tengah perubahan peta politik yang terus bergerak.

Wacana Partai Dinilai Sebagai Strategi Sorotan

Heru melihat gagasan pembentukan partai bukan semata soal arah baru organisasi, melainkan cara menghidupkan kembali energi dan eksistensi Projo. Dalam pandangannya, Projo sedang berusaha kembali muncul ke permukaan setelah dinamika politik nasional bergeser. Namun, ia mempertanyakan sejauh mana langkah itu benar-benar sejalan dengan identitas Projo yang selama ini dikenal sebagai relawan pendukung Jokowi.

Menurut Heru, Projo tidak memiliki fondasi ideologi politik yang kuat maupun agenda independen yang jelas jika ingin melangkah menjadi partai. Karena itu, ia menilai transformasi semacam itu tidak bisa hanya bertumpu pada pernyataan politik sesaat. Di titik ini, Heru juga menyinggung bahwa peran utama Projo selama ini justru lebih masuk akal jika difokuskan pada pengawalan terhadap Jokowi dalam dua periode kepemimpinannya.

Posisi Budi Arie Dipandang Tidak Menguatkan Langkah Itu

Heru turut menyoroti posisi Budi Arie Setiadi yang belakangan dinilainya tidak sedang berada dalam situasi politik yang menguntungkan. Setelah dicopot dari jabatan Menteri Koperasi dan UKM oleh Presiden Prabowo, Budi Arie dianggap kehilangan pijakan politik yang kuat. Dalam pembacaan Heru, kondisi itu justru membuat setiap wacana besar yang disampaikan Budi Arie tampak lebih sebagai upaya mempertahankan pengaruh.

Ia bahkan menyebut Budi Arie tengah berada di bawah tekanan politik dan menghadapi persoalan hukum, sehingga kapasitasnya untuk mendorong Projo menjadi partai politik patut diragukan. Dari sudut pandang Heru, tantangan itu bukan hal kecil, apalagi jika rencana tersebut ingin diwujudkan dalam bentuk organisasi politik yang benar-benar punya daya tawar.

Projo dan Pertanyaan tentang Arah ke Depan

Di tengah spekulasi yang berkembang, Heru menilai Projo justru sedang diuji: apakah tetap bertahan sebagai relawan dengan fungsi yang jelas, atau mencoba masuk ke arena politik praktis dengan risiko kehilangan identitas awalnya. Baginya, perubahan nama atau status organisasi tidak otomatis membuat Projo punya kekuatan politik baru. Yang lebih menentukan adalah apakah ada basis gagasan, struktur, dan legitimasi yang cukup untuk menopang langkah sebesar itu.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.