Pesantren Bukan Sisa Masa Lalu: Prof. Nadirsyah Hosen Soroti Salah Kaprah soal Modernitas
Perdebatan tentang pesantren kembali mencuat setelah Prof. Nadirsyah Hosen, akademisi Universitas Melbourne, menanggapi anggapan bahwa lembaga pendidikan Islam itu tak lagi relevan di era modern. Dalam pandangannya, kritik semacam itu berangkat dari pemahaman yang sempit tentang modernitas, seolah-olah kemajuan hanya bisa lahir jika agama disingkirkan dari ruang ilmu pengetahuan.
Modernitas Tidak Harus Sekuler
Nadirsyah menilai, gagasan bahwa Islam baru dianggap modern bila bersifat sekuler adalah kekeliruan yang sudah usang. Ia menyebut cara pikir yang memisahkan agama dari sains demi kemajuan sebagai pandangan yang lebih cocok untuk abad ke-18, bukan untuk membaca posisi Islam hari ini. Menurut dia, modernitas tidak otomatis identik dengan menjauh dari nilai-nilai keagamaan.
Ia juga menegaskan bahwa sejarah justru menunjukkan sebaliknya: Islam pernah menjadi salah satu landasan penting bagi perkembangan sains. Untuk memperkuat argumennya, Nadirsyah mengutip sejarawan Marshall Hodgson yang menyatakan bahwa Islam mendorong kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan.
Salah Paham soal Santri dan Pesantren
Dalam komentarnya, Nadirsyah juga menyinggung sejumlah stereotip yang kerap dilekatkan kepada santri. Mulai dari anggapan bahwa santri bersikap kritis terhadap demokrasi dan hak asasi manusia, hingga pandangan sinis bahwa kehidupan sederhana, termasuk penggunaan sarung di pesantren, dianggap tidak mengikuti zaman. Bagi Nadirsyah, cara pandang seperti itu justru menunjukkan kegagalan memahami pesantren secara utuh.
Ia menekankan bahwa pesantren bukan sekadar tempat belajar agama, melainkan ruang pembentukan karakter yang melahirkan pribadi cerdas, kritis, dan tetap menghormati guru. Di titik ini, pesantren berdiri bukan sebagai lawan modernitas, melainkan sebagai institusi yang menjaga keseimbangan antara tradisi dan pembaruan.
Tradisi, Nalar, dan Jalur Tengah
Menurut Nadirsyah, kekuatan pesantren justru terletak pada kemampuannya merawat tradisi tanpa menutup diri dari perkembangan zaman. Pesantren, kata dia, berada di jalur tengah: tidak terjebak pada romantisme masa lalu, tetapi juga tidak larut dalam modernitas yang memutus akar keilmuan dan adab. Dari sana, lahir manusia yang tidak hanya berwawasan luas, tetapi juga punya fondasi moral yang kuat.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.










