Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melontarkan kritik keras terhadap tim programmer dari LG yang terlibat dalam pengembangan coretax, sistem yang sejak diluncurkan pada 2025 justru terus menuai gangguan. Sorotan Purbaya bukan semata soal hasil akhir, melainkan juga kualitas teknis tim yang menurutnya tidak sebanding dengan nilai proyek yang mencapai Rp1,228 triliun.
Proyek besar, hasilnya masih bermasalah
Coretax sejak awal digadang-gadang menjadi tulang punggung layanan perpajakan modern. Namun, alih-alih berjalan mulus, sistem itu justru kerap error. Situasi tersebut membuat Purbaya kecewa setelah menelusuri source code yang diserahkan kepadanya. Dari situ, ia menilai kemampuan programmer yang mengerjakan proyek tersebut sangat jauh dari harapan, bahkan ia menyebutnya setara lulusan SMA.
Proyek Coretax sendiri dikerjakan konsorsium LG CNS-Qualysoft yang ditetapkan sebagai pemenang tender pada Desember 2020. Dengan kontrak bernilai besar, publik tentu berharap sistem yang dihasilkan memiliki kualitas tinggi, stabil, dan bisa diandalkan untuk mendukung administrasi pajak nasional.
Hacker Kemenkeu ikut turun tangan
Purbaya juga menegaskan bahwa kemampuan programmer Indonesia tidak kalah dibanding tenaga asing. Ia bahkan menyebut tim hacker yang direkrut di Kementerian Keuangan harus ikut membimbing tim LG untuk membenahi Coretax. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa persoalan utama bukan hanya pada sistem yang bermasalah, tetapi juga pada kesenjangan kemampuan teknis di balik pengerjaannya.
Dengan anggaran sebesar Rp1,228 triliun, Purbaya menyoroti bahwa proyek sebesar ini seharusnya tidak hanya mengejar serapan dana, tetapi juga menghadirkan kualitas kerja yang benar-benar matang. Dalam kasus Coretax, besarnya biaya justru kontras dengan banyaknya persoalan yang muncul sejak awal peluncuran.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
